Jl. Alun-Alun Utara, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta,
Daerah Istimewa Yogyakarta 55122
Di Yogyakarta ada sebuah budaya yang hingga saat ini masih
terus dilestarikan yaitu Sekaten. Diselenggarakan untuk memperingati kelahiran
Nabi Muhammad SAW yang lahir pada tanggal 12 Maulud atau Mulud dalam bulan
ketiga tahun Jawa. Diadakan pada tangal 6 hingga 12 pada bulan yang sama.
Perayaan sekaten meliputi “Sekaten Sepisan” dan ditutup dengan “Grebeg” di
halaman Masjid Agung Yogyakarta atau sering disebut sebagai Masjid Gedhe
Kauman. Sekaten adalah simbol kebersamaan yang diidentikkan dengan kraton dan
rakyatnya.
Kata Sekaten diambil dari pengucapan kalimat “Syahadat”.
Istilah Syahadat, yang diucapkan sebagai Syahadatain ini kemudian berangsur-
angsur berubah dalam pengucapannya, sehingga menjadi Syakatain dan pada
akhirnya menjadi istilah “Sekaten” hingga sekarang. Namun dalam asal usulnya
selain syahadatain, kata sekaten juga diambil dari beberapa kata lain.
Jl. Pangurakan Yogyakarta, Gondomanan, Kota Yogyakarta,
Daerah Istimewa Yogyakarta 55122
Museum Negeri Sonobudoyo merupakan Unit Pelaksana Teknis
Daerah pada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, mempunyai fungsi pengelolaan benda
museum yang memiliki nilai budaya ilmiah, meliputi koleksi pengembangan dan
bimbingan edukatif cultural. Sedangkan tugasnya adalah mengumpulkan, merawat,
pengawetan, melaksanakan penelitian, pelayanan pustaka, bimbingan edukatif
cultural serta penyajian benda koleksi Museum Negeri Sonobudoyo.
Museum Sonobudoyo yang berlokasi di pusat kota berada dalam
lokasi yang strategis, berada dalam lingkungan Pusat Budaya Yogyakarta yang
banyak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak baik dari dalam maupun luar
negeri. Bangunan Museum Sonobudoyo merupakan rumah joglo dengan
arsitektur masjid keraton kesepuhan Cirebon. Didesain oleh Ir Th Karsten.
Keberadaan museum erat hubungannya dengan sebuah yayasan
masa Kolonial Java Institut dibidang kebudayaan Jawa, Madura, bali, dan Lombok
sebagai pencetus berdirinya Museum Sonobudoyo, yang diresmikan pada tanggal 6
November 1935, oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dengan ditandai
Candrasengkala “Kayu Winayang Ing Brahmana Budha”
Museum Sonobudoyo sebai museum provinsi kedepannya di
harapkan akan menjadi gambaran dari fungsi museum dalam hal pelayanan dan
optimalisasi Fungsi, dengan melihat potensi yang dimiliki, sehingga akan
mempunyai prospek dan peluang untuk lebih dikembangkan dan ditingkatkan, dalam
rangka menghadapi persaingan baik pada level Nasional maupun Internasional.
Kec. Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta
Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia
bahkan se Asia Tenggara. Candi ini dikenal juga dengan nama Candi Roro Jongrang
yang didirikan sekitar tahun 850 Masehi oleh Wangsa Sanjaya. Oleh UNESCO sejak
tahun 1991 silam, candi ini ditetapkan sebagai cagar budaya dunia yang harus
dilindungi keberadaanya. Candi Prambanan ini memiliki ketinggian 47 meter atau
lebih tinggi 5 meter dari candi Borobudur.
Struktur candi Prambanan menggambarkan kepercayaan dalam
agama Hindu yaitu Trimurti. Komplek candi Prambanan mempunyai 3 candi di
halaman utama yaitu candi Siwa, candi Brahma dan candi Wisnu. Seteiap candi
utama mempunyai satu candi pendamping. Untuk candi Siwa didampingi candi
Nandini, untuk candi Brahma didampingi candi Angsa dan untuk candi Wisni
didampingi candi Garuda.
Relief yang terpahat pada dinding candi Prambanan
menceritakan kisah Ramayana. Terdapat juga relief pohon Kalpataru, dimana umat
Hindu menganggap pohon tersebut melambangkan kelestarian, kehidupan dan
keserasian. Keberadaan pohon tersebut menggambarkan masyarakat jawa pada waktu
itu mempunyai kesadaran dalam melestarikan lingkungannya.
Bagi para pengunjung ingin mencari informasi lebih lanjut
mengenai Candi Prambanan, sudah disediakan sebuah museum yang terletak di
kompleks candi Prambanan. Museum tersebut menyediakan informasi audio visual
mengenai sejarah di temukannya candi Prambanan hingga proses pemugarannya
disajikan secara lengkap.
Ada even yang menarik dilaksanakan setiap bulan pada bulan purnama
yaitu pementasan Sendratari Ramayana. Kisah Ramayana yang diceritakan dalam
pertunjukan ini merupakan terjemahan dari relief yang dipahat pada dinding
candi Prambanan.
Jl. Nogosari No.6, Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah
Istimewa Yogyakarta 55132, Indonesia
Taman Sari adalah Taman Istana yang memiliki gaya arsitektur
unik karena merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Jawa dan Portugis,
Sultan Hamengkubuwono I dulunya memang dibantu oleh arsitek-arsitek dari
Portugis saat hendak membangun Taman Sari ini.
Hal pertama yang mengesankan ketika Anda berkunjung ke Taman
Sari adalah gapura unik dengan ukiran-ukiran cantik yang menjadi pintu masuk di
Taman Sari. Memasuki dua pintu kedalam Anda akan menemukan dua kolam berair
biru. Pada masanya kolam tersebut adalah tempat pemandian para putri dan
selir-selir raja. Hiasan-hiasan seperti air mancur yang berbentuk kepala naga
dan pot-pot bunga disekelilingnya menambah apik interior di Taman Sari.
Keistimewaan lainnya di area taman sari adalah masjid bawah
tanah. Untuk menuju masjid bawah tanah, Anda harus melewati jalan yang berupa
lorong-lorong panjang dan tangga-tangga. Gaya arsitektur masjid ini tidak
seperti masjid-masjid pada umumnya yang berbentuk persegi, melainkan berbentuk
lingkaran. Di tengah-tengah masjid ini terdapat sumur yang disebut Sumur
Gumilang. Masjid ini dulunya merupakan Surau yang sring dipakai Sultan untuk
shalat.
Fasilitas
Ada banyak penginapan, hotel dan warung makan sampai
restoran yang menawarkan berbagai menu andalan kota Yogyakarta di sekitar
kawasan ini . Anda juga bisa menyewa pemandu berlisensi dengan tarif:
10.000-20.000 rupiah., Ada banyak penginapan, hotel dan warung makan sampai
restoran yang menawarkan berbagai menu andalan kota Yogyakarta
di sekitar kawasan ini. Anda juga bisa menyewa pemandu berlisensi dengan tarif:
10.000-20.000 rupiah.